Akselerasi or Acceleration
Blog ini menyediakan berita-berita tentang kelas akselerasi yang menurut sebagian orang sangat "wah". Sebenarnya kelas aksel tidaklah yang seperti kita bayangkan, anak-anak yang pandai, kreatif, cerdas, dan sebagainya. Kita harus lebih memperhatikan psikologis anak-anak aksel dimana mereka seperti kehilangan hidup mereka. Hidup mereka hanya diisi dengan belajar dan belajar. Mari kita tengok realita yang ada.

Akselerasi, program anak cerdas

By wizardxboy
Jakarta (Republika: 08/10/04) Sekitar 20 persen siswa SD dan SLTP di beberapa provinsi memiliki kemam¬puan dan kecerdasan luar biasa namun berisiko tingga kelas. Mengapa demikian? Penyelenggaraan kelas akselerasi (percepatan belajar) dianggap salah satu alternatif bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata rata. Ini dilakukan untuk mengimbangi kekurangan yarig terdapat pada kelas klasikal yang bersifat massal. Melalui program ini memungkinkan siswa dapat menyelesaikan waktu belajar lebih cepat dari yang ditetapkan.

Adalah Dr Herry Widyastono MPd yang mencoba mengelompokkan kecerdasan dan kemampun siswa dalam tiga strata: anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata rata, rata rata, dan di bawah rata rata. Siswa di bawah rata rata memiliki keeepatan belajar di bawah kecepatan belajar siswa umumnya. Sebaliknya, siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas rata rata memiliki kecepatan belajar di atas kecepatan belajar siswa siswa lainnya.

Siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan rata rata, menurut dia, selama ini diberikan layanan pendidikan dengan mengacu pada kurikuluin yang berlaku secara nasional. Itu karena kurikulum tersebutdisusun terutama diperuntukkan bagi anak-anakyangmemilikikemampuandan kecerdasanrata-rata. Siswa dengan kemampuan dibawah rata-rata, diberikan layanan pengajaran remidi (remedial teaching).¬

Bagaimana dengan siswa dengan kemampuan diatas rata rata? Herry yang berbicara dalam seminar Program Percepatan Belajar bagi Pengawas dan Kepala SMP Negeri dan Swasta di Jakarta, pekan lalu mengatakan, mereka belum mendapat layanan pendidikan sebagaimana mestinya., "Bahkan, kebanyakan sekolah memberikan perlakuan yang standar (rata rata), bersifat klasikal dari massal, terhadap semua siswa, baik siswa di bawah rata rata, raat-rata, dan di atas rata rata, yang sebenarnya memiliki kebutuhan berbeda," ujarnya.

Akibatnya, ungkap Penanggungjawab kegiatan Penelitian danP engembangan bagi Anak Berbakat pada Pusal Kurikulum, Balitbang, Departemen Pendidikan Nasional itu, siswadi bawah rata rata yang memiliki kecepatan belajar di bawah rata¬-rata akan selalu tertinggal dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Siswa di atas rata rata akan jenuh karena harus menye¬suaikan diri dengan kecepatan belajar siswa siswa lainnya.

Herry lalu mengungkapkan akibat lanjut¬an. Mengutip Yaumil (1991), dia bilang, “Sekitar 30 persen siswa SMA di Jakarta yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berprestasi di bawah, potensinya. Herry juga menemukan ada 20 persen siswa SLTP dan SD di Jawa Barat, Jawa Timur, Lampung, dan Kalimantan Barat yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa, berisiko tinggal kelas karena nilai rata rata rapornya untuk semua mata pela¬jaran catur wulan 1 dan 2, kurang dari enam.

Bagi siswa dalam kategori ini, menurut dia, perlu ada pelayanan pendidikan khusus. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan itu tadi, dengan menyeleng¬garakan akselerasi, program percepatan belajar. Dan kenyataannya, sejumlah sekolah, terutama di DKI Jakarta, sudah menerapkan program semacam ini kepada anak didiknya.

Masih bersifat klasikal-massal

Para guru yang tergabung dalam Musyawarah Kepala Sekolah Penyelenggara Program Akselerasi (MKS¬PPA) DKI Jakarta memandang, penyeleng¬garaan pendidikan secara regu1er yang dilaksanakan selama ini masih lebih banyak bersifat klasikal massal, yaitu berorientasi pada kuantitas untuk dapat melayani sebanyak banyaknya, jumlah siswa. Kelemahan yang tampak dari penyeleng¬garaan seperti:ini adalah tidak terako¬modasinya kebutuhan individual siswa di luar kelompok normal.

Sebagaimana halnya Herry, MKS PPA melihat, dengan sistem ini, siswa yang memiliki potensi kecerdasandanbakat stimewa tidak terlayani secara baik sehing¬ga potensi yang dimiliki dak dapat tersalurkan atau berkembang secara optimal. Berdasarkan pengalaman, siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa cenderung lebih cepat menguasai materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Akibatnya, mereka harus menunggu siswa lain yang memiliki kurang kemampuan dan kecerdasan dari padanya.

Bagaimana sistempelayanan belajardalam program akselerasi? Drs Edy Junaedi, Sastradiharja, MPd dari sekolah AlAzhar Syifa Budi Jakarta dalam seminar yang sama menyebut beberapa cara: sekolah khusus, kelas khusus, dan program khusus. Untuk mengantisipasi timbulnya sikap ekslusifisme dan mendorong tumbuhnya keterampilan sosial (social skill), menurut dia, dapat dilakukan manajemen kelas dengan beberapa pola sistem pelayanan belajar.

Antara lain, pengelompokan siswa dalam kelas khusus. Siswa yang memenuhi persyaratan masuk kelas percepatan belajar kelas tersendiri walaupun jumlahnya sedikit; tidak seperti kelas lainnya, "Bahkan apabila jumlah siswa yang terjaring cukup banyak, misalnya melebihi 22 siswa, akan lebih baik dibuat dua kelas yang lebih kecil sehingga setiap siswa akan mendapat kesempatan belajar lebih banyak,” dia menuturkan.

Selain itu, dapat pula dilakukan penge¬lompokan siswa dalam kelas khusus dengan semi inklusi. Yaitu, pada sebagian mata pelajaran siswa belajar bersama sama dengan kelas reguler. Misalnya, pada mata pelajaran yang bersifat vokasional'seperti olahraga, kesenian, komputer, muatan lokal Alquran, dan mata pelajaran lain yang lebih banyak menekankan kepada kompetensi dasar keterampilan psikomotorik maupun afektif

Menurut dia, pengembangan strategi pembelajaran perlu diarahkan pada terwujudnya proses belajar tuntas melalui pendekatan siswa belajar aktif dan kreatif dengan penekanan pada pemilihan materi esensial sesuai indikator indikator hasil belajar pada setiap kompetensi dasar dalam kurikulum. yang berlaku.

Juga perlu lebih banyak rrienggunakan metode inquiry (penelitian/penyelidikan) dan discovery (penemuan), di samping metode lainnya dalam rangka memberikan proses belajar yang ‘bermakna. "Sehingga siswa bukan hanya tahu sesuatu tapi bisa melakukan sesuatu," ujarnya.

Edy juga menyatakan perlunya memodifikasi model pembelajaran agar lebih menarik dan menantang, Misalnya, mendatangkan sumber belajar asli langsung ke dalam kelas, seperti pelaku sejarah, sutradara, presenter ternama, dokter, pengusaha, atau sumber belajar lainnya sesuai kebutuhan mata pelajaran dan tuntutan, kompetensi dasar. Atau sebaliknya, membawa siswa untuk belajar di luar kelas dengan mendatangi sumber-sumber belajar melalui kegiatan field trip.

Senada dengan Edy Junaedi, Drs, Fakhruddin MPd, wakil kepala SMA, Labschool Rawamangun menyebut tiga bentuk atau model penyelenggaraan program akselerasi yang dapat dilakukan. Yakni, program khusus, kelas khusus, dan sekolah khusus. Namun dia menyatakan, setiap bentuk memiliki kelebihan dan kekurangan.

Model sekolah khusus yang memberikan layanan pada suatu sekolah khusus diperuntukkan bagi siswa akselerasi (berasrama maupun tanpa berasrama), misalnya. Kelebihan dalam sekolah berasrama, waktu belajar bisa lebih panjang dan memudahkan kegiatan ekstrakurikuler.

Tanpa berasrama, memudahkan perencanaan kegiatan dan ada interaksi dengan sekolah lain. Kekurangannya, sekolah berasrama tidak sesuai untuk jenjang SD, sedangkan tanpa berasrama akan timbul elitis yang kurang baik.

Bagaimanapun, menurut Herry Widyastono, penyelenggataan kelas akselerasi bagi siswa yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa merupakan salah satu strategi alterhatif yang relevan, karena mereka memiliki kecepatan belajar dan motivasi belajar di atas siswa-siswa lainnya.

Namun, kata dia; ini tidak berarti peningkatan mutu pendidikan untuk peserta didik secara klasikal massal ter¬abaikan, melainkan perbedaannya terletak pada intensitas dan ektensitas perhatian yang diberikan kepada peserta didilk sesuai dengan kondisi mereka.
 

0 comments so far.

Something to say?